Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 20 Mei 2011

Film Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti


Judul                     : Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti
Genre                   : Religi
Durasi                   : 90 menit
Sutradara            : Lena Sa’yati
Skenario              : Tim matapena Rayon Tasikmalaya
Pemain                 : Wafda, Elif, Rini, Yuni, Lidini, Agnes, Muna, Noverita Mustika
Produksi              : Matapena Tasik in Association with Lingkar Kreatif 

Sinopsis:
Film ini diangkat dari buku berjudul sama, karya anggota Matapena Rayon Tasikmalaya Ponpes Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah. Bercerita tentang seluk beluk romantika kehidupan santri dan santriwati di sebuah pondok pesantren. Dalam film ini terdiri dari beberapa judul dengan cerita yang berbeda-beda. Diantaranya; Language is Our Crown, No Gosob!, Pepping? No way!, Belanja Sambil Beramal, Blezzer, dll.
Dalam Language is Our Crown misalnya, seorang santriwati bernama Linta kerap menjadi pelanggar bahasa, hingga namanya disebutkan beberapa kali dalam pengumuman pelanggar bahasa. Akhirnya dia diberi hukuman untuk memakai kerudung pelanggaran selama satu hari. Sejak saat itu, beberapa temannya mulai menjauhi dan mencemooh dirinya, tapi sahabat sejatinya Ilya selalu memberi semangat dan motivasi sehingga Linta mencoba untuk giat belajar bahasa dari buku-buku bahasa yang ada. Dari hari ke hari bahasa Linta mulai membaik, hingga akhirnya, namanya tak lagi tertera dalam daftar para pelanggar bahasa. Maksud bahasa disini adalah dua bahasa asing (arab dan inggris), karena di ponpes ini, memakai kedua bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari adalah wajib hukumnya, maka jika ada salah satu santri yang keahuan tidak berbahasa resmi, sudah dipastikan mendapat hukuman dari bagian bahasa.
FYI, Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti merupakan film perdana yang dibuat santri Ponpes Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah bekerjasama dengan rumah produksi Lingkar Kreatif. Bermula dari buku karya anak klub sastra matapena, merekapun ingin lebih memvisualisasikan isi dari buku yang mereka buat, agar pesan yang terkandung dlam buku tersebut lebih mdah diterima oleh khalayak umum. Pada intinya, film ini berusaha mengangkat kehidupan para santri yang snagat jarang sekali terekspos media. Film ini ingin menunjukan, bahwa memilih hidup di pesantren merupakan sebuah keputusan untuk menjadikan hidup ini lebih berarti.
Disajikan dengan cerita-cerita ringan dan menghibur, dalam film inipun para pemain menggunakan dua bahasa asing dalam setiap percakapannya. Inilah yang membuat film ini beda dari film-film indonesia lainnya. Pesan yang tersirat dari setiap ceritapun lebih nyata dan tampak real, karena setiap cerita di akhiri dengan pesan nasihat. Seperti dalam Language is our Crown, di akhir cerita tertulis nasihat ; ‘Language is not lesson, but language is habit’ ‘Brave to try, never give up, speaking, speaking, and speaking’. Selain cerita, dalam film inipun disajikan sebuah infotainment bernama ‘Laa Ghibah’ yang dibawakan oleh presenter kocak namun menyajikan berita-berita yang sarat akan makna, begitupun dengan narasi yang  dibacakannya.
Menonton film ini dijamin tidak akan jenuh, karena dari setiap cerita, selalu ada hal-hal yang menarik yang berbeda, dan lain dari yang lain. [Lena]
 
Beberapa adegan dalam film Hidup Sekali Hiduplah yang Beararti:




Itulah beberapa adegan dalam film HSHYB. pastinya penasaran kan sama para pemainnya yang kelihatan total banget berakting di film ini. Yup, kami memang sengaja mempersembahkan para pemain yang sekiranya berbakat dlam seni akting. Tidak perlu ada casting formal, kami cukup melihat aksi mereka dalam Lomba Drama Bahasa Inggris, maka langsung saja kami gaet anak-anak berbakat ini. Ini dia beberapa pemain utama dalam film HSHYB.
Wafda Fahrunnisa

Wafda fahrunnisa berperan sebagai Linta dalam judul 'Language is Our Crown'. Semula langganan menjadi pelanggar bahasa, lalu bangkit menjadi mahir berbahasa.

   

Elif Alifah
Berperan sebagai Laura dalam judul 'No Gosob!'. Laura adalah anak yang selalu menjadi korban penggosoban. Dibantu temannya Sinta, Ia berhasil menyadarkan orang yang menggosob barangnya.

Rini Iswanti & Yuni Latifatun Nisa
 Rini berperan sebagai Nada, dan Yuni berperan sebagai Sella. Mereka bermain dalam judul 'Alunan Nasyid dan Dakwah'. Semula selalu tidak akur, namun lama-lama bersatu karena satu tim dalam nasyid.

Muna Wafa Fikria
Muna berperan sebagai Muna dalam judul 'Ummu Naum'. Muna dijuluki Ummu Naum lantaran selalu tidur dalam situasi apapun. Namun akhirnya Ia berubah dan malah teman yang selalu mengejeknya yang jadi Ummu Naum.

Agnes Sustine
Agnes berperan sebagai Sisil dalam judul 'Pepping? No Way!'. Di sini Sisil berwatak centil, suka mengintip cowok, sampai akhirnya Ia bertubi-tubi kena musibah pada waktu mengintip. Akhirnya Ia tobat, dan tidak akan mengulangi aksi pepping lagi.

Lidini Hanifa
Lidini berperan sebagai Lidini dalam judul 'Belanja Sambil Beramal'. Semula tidak mau belanja di Unit Usaha milik Pondok dengan alasan selalu antri, tapi semenjak dijewer dan dinasihati Keamanan, akhirnya Lidini mencoba untuk belanja di Mini Market Pondok.

Sebagai presenter kocak, Noverita membawakan acara dengan tidak membosankan, agak-agak mirip dengan pembawa acara infotainment Silet, hanya saja tema berita berisikan liputan tentang kehidupan para santri beserta kegiatan-kegiatan wajibnya.


Behind The scene


               
                Proses syuting berjalan selama 4 hari, dari hari jum’at sampai hari senin pagi. Sebenarnya kami menargetkan waktu hanya dua hari saja, namun karena banyak hal-hal yang tak terduga terjadi pada saat proses syuting, alhasil waktupun ngaret sampai dua hari. Dari mulai diguyur hujan, ada salah satu kru yang terluka saat take gambar, ada yang sampai nangis-nangis, kameramen lupa tidak membawa lampu sampai kami harus beribut mencari lampu neon kesana kemari, dan lain sebgainya. Tapi actually semuanya berjalan dengan lancar, alhamdulillah.
                Sebenarnya pembuatan film ini bisa dibilang cukup singkat, karena kami harus menyesuaikan deadline waktu dengan kedatangan penulis nasional Ahmad Fu’adi. Rencananya kan film ini akan di launching pada waku bersamaan. Maka sayapun bergegas mengumpulkan anggota matapena untuk segera membuat naskah cerita. Setiap orang ditugaskan membuat satu script dan bertanggung jawab untuk mengcasting sendiri para pemainnya, menentukan kostumnya, menyipakan settingnya, dan menentukan siapa penerjemah naskahnya. Namun sebelum itu, saya bertugas untuk mengedit terlebih dahulu kelayakan dari naskah mereka.
                Dalam tempo tiga hari, naskah selesai beserta translate-nya. Dan para pemain hanya diberi kesempatan untuk reading, dan menghafalkan naskah dalam kurun waktu satu hari dua malam saja! Wow, apa tidak gila! Beruntung mereka sudah terlatih dengan seringnya diselenggarakan drama bahasa arab dan inggris, jadi tidak terlalu sulit untuk menggodok mereka dalam menghafal naskah. Latihan gladi bersihpun kami laksnakan semalam sebelum besoknya kami mulai syuting. Fiuh, benar-benar melelahkan, memang. Kami baru selesai latihan pukul 23.30 malam, setelah itu para krew masih harus mempersiapkan properti yang akan digunakan syuting, latar tempat, kostum, dan lain sebagainya. Alhasil kami begadang semalaman, dan baru bisa tidur pukul 03.00 pagi untuk kemudian subuh-subuhnya harus mengomando para santri agar bersiap siaga di lapangan untuk take gambar pertama.
                Hari jum’at yang biasanya digunakan para santri untuk mengisi libur dengan kegiatan seperti olahraga, makan bakso bersama, nyuci, dll, kini mereka disibukkan untuk berakting di depan kamera, seperti tampak dalam foto berikut ini:

Salah satu scene dalam 'Belanja Sambil Beramal' ketika anak-anak berkumpul mengisi waktu libur
Scene dalam Belanja Sambil Beramal, menggunakan kolam renang yang belum jadi sebagai setting tempat
Hari jumat disulap jadi hari belajar (dalam 'pepping? no way!')
 Yang lucu adalah pengambilan gambar judul Pondok Tak Pernah Tidur, yaitu dengan infotainment Laa Ghibah-nya. Noverita itu sudah dandan dari jam dua siang, tapi mulai take jam 5 sore, haha, kasihan sekali, mana dia dandan sendirian di dalam studio dadakan bertempat di kelas VII C. memang niatnya mau jam 2 siang, tapi karena judul lain take gambarnya belum rampung, alhasil Laa Ghibah di akhirkan dulu. Mau tahu aslinya infotainment Laa ghibah? 

Before
after
             Wah, gak kebayang hebohnya proses take gambar scene ini. Habisnya presenternya banyak tingkah sih. A Ari sama A Obes aja sampai maksain diri buat nahan biar gak kebablasan ketawa...dan yang paling neybelin, presenternya malah jadi lupa teks total kalau udah di depan kamera, walhasil, saya mesti bersedia nulis teksnya deh dan disimpan dibawah kamera biar presenternya bisa ngintip kalau lupa. Seperti gambar dibawah ini;

Wah, negrjain nih pemain, masa sutradara disuruh nulis narasi berita?..fiuh,
 Tapi it's oke, meskipun agak memakan waktu lama, tapi hasilnya cukup memuaskan apalagi dengan aksi lebay presenternya. Maksudnya sih supaya pesan yang terkandung dapat dengan senang hati diterima penonton.


Yang kasihan itu, para script writer. Rencanany kan mereka memberikan prolog dulu sebelum masuk ke cerita, tapi waktu syutingnya di undur-undur mulu. Mereka sampai gagal tiga kali mesti buka kostum lagi. Sampai keempat kali ganti, baru mereka kebagian take gambar, hehe, maaf ya kawan-kawan, memang selalu ada hal tak terduga dalam setiap perjalanan. Tapi akhirnya, selesai juga pembuatan film dengan diakhiri take gambar para scriptwriter.

Para scriptwriter setelah selesai take gambar judul 'Pondok Tak Pernah Tidur' di mujappaf Rojul
Sebenarnya syuting diakhiri take gambar untuk behind the scene, baru setelah itu kita kumpul bareng krew dan pemain tak lupa juga kameramen dari Lingkar Kreatif di kelas VII C. Dan bersama-sama kami menarik nafas lega, karena proses syuting telah selesai! Yeee...tinggal menunggu hasilnya deh. Wah, lega tak terkira deh teman-teman.Finally, kita semua mengucapkan Alhamdulillah karea sudah diberi kesempatan dan kemudahan dalam menjalani proses syuting film HSHYB ini.
Finally, we say....ALHAMDULILLAH
Ucapan terimakasih juga saya ucapkan kepada kedua rekan saya Ratna dan gani yang bersedia menjadi asisten, dan kepada Ustadz Syahruzzaky yang menjadi produser bagi acara ini. Terutama kepada pondok ini yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk ikut mengibarkan potensi demi kebaikan pondok ini.

Salam,

Lena Sa'yati, Pembimbing Komunitas Matapena Rayon Tasikmalaya
 

Kamis, 03 Februari 2011

Catatan terakhir

    Aku segera menghambur pergi,menghindari tatapan tajam yang sejak tadi memperhatikan setiap gerikku.Aku mulai memasukan barang-barangku kedalam koper,tekadku sudah bulat,aku akan pergi ke Yogyakarta,kota penuh budaya,impianku.Sebenarnya bukan karena keistimewaannya aku memutuskan pergi kesana ,tapi karna aku merindukan suasananya.Aku ingin pergi dari semua ini,Aku capek.

"Rin,,,,mang dah gak ada cara lagi ya?"Aku menangkap sosok Mei dengan mata berkaca,juga kesepuluh sahabatku yang berjejer disisi dinding kamar sambil terus memerhatikan yang aku kerjakan.Aku menangkap setitik cahaya takrela  dimata mereka.Tapi,aku harus tetap pergi demi kebaikan mereka.
    Waktu sudah menunjukan pukul 19.30,aku memutuskan perjalanan malam.
"Aku gak rela kamu pergi"celetuk Rifki.Aku mendengar segukan tangis Lutfi.Aku menatap mereka satupersatu.Jaky. . . . .dia yang kucari,tak ku lihat dia diruangan ini.Aku mulai celingukan menelusuri setiap sudut ruanagan.
"Jaky dibelakang rin.."Joshua menjawab pencarianku.Aku segera pergi menuju halaman belakang vila.
                                                 Hening........................
"Jaky..."sapaku memecahkan keheningan.Aku melihat butiran-butiran permata mengalir diatas pipinya.
"Aku minta ma'af"kataku lemah.Ku akui hatiku teriris.Tanpa kusadari air mataku telah membanjir.
"gak usah minta ma'af,gak aku ma'afin juga kamu bakal tetep pergikan?"katanya dingin,datar dengan tatapan kosong lurus kedepan.Aku tak tahan lagi.Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jebol juga.Aku menangis dipeluknya.
   Sekitar pukul 20.00 WIB aku meninggalkan vila yang sudah hampir 3 bulan kami tinggali bersama.Sebelum pergi aku masih bisa melemparkan sesungging senyum pada mereka,meski sulit.Aku pergi dengan hati teriris,perih.Selama diperjalanan pikiranku melayang kemasa lalu.saat aku,Jaky,dan kesepuluh sahabatku masih bisa melewati hari bersama.
2 bulan yang lalu...........
   Riak-riak percikan air terdengar nyaring diantara bebatuan dibawah dereta pohon vinus yang menjulang tinggi.Kami berkumpul dipinggirnya,dibawah keteduhan pohon vinus.Kami mengelilingi apa yang sudah kami nyalakan,sambil bercanda,bercerita,dan bernyanyi bersama.Tak lama Ihsan dan Fizman datang dengan membawa beberapa jagung siap bakar.Kamipun membakar jagung bersama.
"Aku gak nyangka semua ini kan terjadi."ungkap Resa ditengah keasikan kami memakan jagung bakar.
"Ya,dan aku bahagia dengan semua ini"timpalku
"aku lebih bahagia karna memilikimu"kata Jaky...
"hu...........h.."semuanya menyorakiku.Kurasakan pipku memanas.Malu.
Disini kutemani kau dalam tangismu
bila air mata dapat cairkan hati
kankucabut duri perih dalam hatimu
agar kulihat,senyum ditidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini,satu langkah dewasakan diri
dan takterpungiri juga bagi
Engkau yang hatinya terluka
Diiringi petikan gitar yang dimainkan Rifki dan joshua,juga dengan suasana senja kami menikmati semuanya.Lamunanku terputus,saat aku sadari semua itu hanya tinggal kenangan.aku tahu aku takan bisa seperti dulu lagi,setelah virus ini menyerang dan menggerogoti tubuhku,yang memaksakan ku haris pergi,dari sahabat yang kusayangi dan Jaky yang kucintai setulus hati.HIV/AIDS virus yang takpernah kubayangkan sebelumnya.
    Kujalani hidupku diyogya ini dengan seadanya.Untuk mengisi kejenuhanku aku mengisi hariku dengan berlaga di dunia maya.Sudah hampir satu tahun aku hidup seperti ini,tanpa ada kontak dengan keluarga maupun sahabat-sahabatku.Dengan tubuh semakin lemah,virus ini terus menggerogoti tubuhku yang sudah tak berdaya.Aku tetap mencoba tegar dalam keadaanku sekarang.
   Dalam keadaan senja yang menguning,kududuk dan kutelungkupkan kaki didalam peluk tubuh keringku.Aku ingin melihat matahari terbenam dibalik danau biru yang terdampar luas.Dengan tatapan kosong aku menikmati semilir angin berhembus
"Arini......"Aku terkejut.Suara yang tak asing ditelingaku.Aku menoleh kesumber suara.
1...2...3....10..wajah-wajah yang sudah kukenal,wajah yang sudah lama menghilang dari hidupku. Wajah-wajah mereka berseri.Rifki,Joshua,Fizman,ihsan,fahmi,mei,sofi,lutfi,Resa,dan Jaky,mereka ada disini.
Aku berlari menuju mereka,dan menghambur kedalam pelukan Jaky yang langsung menyambutku.Kerinduan ini sudah membeludak.
"Aku gak nyangka kalian masih mau nemuin aku"Kataku ditengah aliran air mata.
"Gimanapun juga,gimanapun keadaanmu,kamu tetap sahabat kami"jelas Sofi
   Aku bersyukur padamu Tuhan.Trimakasih kau beriku sahabat seperti mereka.Kini kuingin jalahi saat-saat terakhirku bersama mereka.
our friendship like flowers in spring 
and sunshining in summer

04 februari 2011
wida  wandini

Jumat, 24 Desember 2010

Lihai Tarian Daun Gugur


Lena Sa’yati, Anggota Komunitas Matapena



            Hari ini semuanya terungkap, sepanjang jalan yang telah kami ikuti kini sampai pada batasnya, setiap apa yang dipertanyakan kini mendapat jawabannya. Di tengah lapangan hijau nanluas, dia memeluk erat seorang wangan, di sekelilingnya para pendosa hanya merongrong meratapi nasibnya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Sungguh menyakitkan. Dan lihatlah, air mata yang tak henti-henti berlinangan dipipinya itu telah menjadi bukti rasa perih yang menyakitkan. Tanah yang basah, beserta hujan yang mengguyur bumi menjadi saksinya.
            “ Aku tak percaya ini,”
            “ Sulit untuk dipercaya, “
            “ Bagaimana mungkin kita sama sekali tak mengetahuinya?”
Sekelumit rasa ketidakpercayaan kami terhadap situasi ini cukup menjelaskan betapa Ia begitu lihai menyembunyikan semua ini.
***
            Namanya Ibu Halimah, Ia seorang janda terhormat yang pernah kami temukan dijagat ini. Perangainya baik, wajahnya teduh, tutur katanya sopan, namun berwibawa tinggi. Ibu Halimah cerdas luar biasa. Dan selain itu, Ia juga kaya raya.
            Kami selalu membanggakannya karena Ibu Halimah berjiwa sosial tinggi. Dari kekayaannya itu, dengan besar hati Ia telah berhasil mendirikan enam lembaga pendidikan dan dua panti asuhan. Dari mulai yang terkecil PAUD, sampai taraf seusia kami yaitu SMA, Ibu Halimahlah pemilik sekaligus kepala sekolahnya. Namun, sehubungan keadaannya yang semakin sibuk, Ibu Halimah kini hanya menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA saja, sedangkan yang lain Ia serahkan pada rekan-rekannya yang Ia pecaya. Namun yang selalu membuat kami merasa heran, mengapa Ia tidak pernah menyampaikan pidato pada saat upacara hari senin. Selalu tidak hadir, dan kami selalu tak pernah mendapatkan jawaban atas ketidak hadirannya itu.
            “ Kenapa Ibu Halimah tidak pernah sekalipun pidato pada upacara hari senin?” Aku memulai percakapan di meja kantin pada sang itu.
            “ Apa kamu tidak paham dengan keadaan beliau yang notabene termasuk orang yang super sibuk? Bayangkan, enam lembaga, Na, enam lembaga!” Sinta mengacung-acungkan jempolnya kedepan mukaku.
            “ Ah, tidak masalah bagiku tidak mendengar pidatonya. Toh aku sudah tahu bagaimana intonasi, mimik,ritme dan sopan santunnya saat berpidato pada acara kenaikan kelas. Pasti kalau upacara hari seninpun tak akan jauh berbeda.” Indah ikut menyahut sesaat sebelum Ia menyedot minumannya.
            “ Yang justru membuatku aneh itu, kenapa Ibu Halimah tidak pernah bercerita sedikitpun mengenai anaknya!...” Itu Lina. Namun kembali Indah menyahut,
            “ Dari sosok Ibu Halimah yang rupawan, sudah dipastikan anaknyapun ganteng, kalau laki-laki, dan pasti cantik, kalau perempuan.”
            “ Tapi umur anaknya berapa ya? Anaknya sekolah dimana? Kemudian, berapa sebenarnya anak Ibu Halimah itu? “
Di samping percakapan mereka itu kemudian ada satu lagi pertanyaan yang membuat hasrat ingin tahuku kembali membuncah untuk menguaknya. Lina benar, selama tiga tahun kami mengenal sosok Ibu Halimah, mengapa tidak pernah ada kabar sedikitpun tentang siapa anaknya? Berapakah umurnya? Sekolah dimana? Atau bahkan mungkin Ibu Halimah tidak mempunyai anak sama sekali karena dari dulu Ia sudah menjadi janda? Sifat kuriousitasku muncul lagi. Dan aku harus tahu jawabannya!
***
            Pada hari itu kami mulai menguntiti setiap gerak-gerik Wanita sosialita itu. Dari balik pagar rumah sebelah, kepala kami saling bersembulan hendak mengintip saat Ibu Halimah kebetulan keluar dari rumah asrinya. Seperti biasa, sudah ada sang sopir yang setia membukakan pintu mobil untuknya. Saat itu Ibu berpakaian layaknya seorang guru, dengan setelan seragam berwarna abu-abu, tas di bahu kanannya, dan sebotol air mineral yang di kepal tangan kirinya.
            “ Apa tidak apa-apa kita bolos sekolah hanya untuk berlaku seperti ini?” Indah mulai merasa tak nyaman dengan misi kami.
            “ Dengar, kita datang kesini bukan hanya untuk percuma. Tapi kita akan menguak semua rasa penasaran dihati setiap orang. Bisa terkenal, kita!” Sinta selalu semangat untuk hal-hal semacam ini.
            “ Hei, apa kalian tidak merasa heran, untuk apa Ibu Halimah menenteng sebotol air mineral? ” Justru malah itu yang aku herankan. Mataku tetap tertuju pada sosok yang kini tengah masuk kedalam mobil itu .
            “ Kenapa kamu bodoh sekali! Untuk apa lagi kalau bukan untuk minum! Kamu pikir orang semacam Ibu Halimah tidak pernah merasa haus, apa?! “ Sinta seperti biasa, selalu menyolot.
            “ Maksudku bukan itu. Tapi benar-benar tidak biasanya. Kalau hanya untuk sekedar minum, Ibu bisa membeli dimana saja. Tidak perlu menenteng botol dari rumah begitu.” Aku keukeuh merasa heran.
            “ Eh, mobilnya jalan! Ayo berangkat!...” Lina mengingatkan. Membuat kami segera bergegas, dan melupakan perseteruan tadi.
***
            Ibu Halimah nampaknya akan mengunjungi lembaga SLB-nya yang telah Ia dirikan bersamaan dengan lembaga-lembaga yang lainnya. Ya kami mafhum kalau Ibu Halimah jarang berada di sekolah, mungkin karena sekolahnya yang lainpun perlu kunjungannya juga. Namun kami baru tahu tentang Sekolah Luar Biasa yang diperuntukan bagi anak-anak autis itu. Itupun karena kami nekat membuntuti Ibu Halimah sampai sejauh ini. Beliau memang seorang wanita berjiwa besar. Statusnya sebagai jandapun tak mampu membuat titelnya sebagai wanita terhormat luntur. Jarang sekali tentunya ada seorang perempuan kaya raya, yang mau menggunakan kekayaannya itu semata-mata untuk turut mencerdaskan anak bangsa. Kalaupun memang ada, paling mereka hanya mampu memberikan sedikit sumbangan saja, itupun dengan syarat nama dermawannya harus disebutkan. Namun perempuan yang satu ini, sungguh luar biasa. Dari sekian hartanya, Ia dengan senang hati menggunakannya untuk membangun institusi-institusi pendidikan dan dua panti asuhan. Dan Ia sendiri tetap ikut andil dalam setiap kepengurusannya. Bahkan Ia dengan senangnya terjun langsung mengajar anak didik dengan cara yang sangat menawan dan enjoy untuk murid-muridnya. Inilah guru. Yang bukan hanya sekedar mengajar, tapi juga guru yang menjadi seorang pendidik.
            Kami mengendap-endap mencoba masuk mengelabui satpam sekolah. Namun akhirnya ketahuan juga.
            “ Kalian siapa? Ada keperluan apa? “ Dengan galak pak Satpam bertanya.
            “ He..he..kami murid Ibu Halimah, mau bertemu beliau, kebetulan Ibu Halimahnya sedang ada di dalam, bukan?” Sinta memberanikan diri sambil memamerkan sederetan gigi-gigi putihnya, cengengesan. Pak Satpam malah melihati kami dari atas kebawah.
            “ Kenapa tidak sekolah? “
            “ Ada hal penting yang ingin kami sampaikan pada Ibu, pak. Maka dari itu izinkan kami masuk ya pak, “ Indah memelas-melas dengan telapak tangan yang dilipat, memohon. Pak Satpam kembali berpikir,
            “ Kami mohon, Pak “ Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Pak Satpam memicingkan matanya, mungkin sedang menimang-nimang. Kami saling menyikut satu sama lain, takut tak mendapat izinnya. Namun sejurus kemudian,
            “ Ya, kalian boleh masuk” Ujarnya masih dengan nada galak.
            “ Yes, terimakasih Pak, “ Kami kegirangan.
***
            Ada perasaan ingin menangis saat kami memberanikan diri masuk kedalam. Melihat berbagai macam karakter anak yang memiliki keterbelakangan mental. Yang ini matanya hanya melongo kedepan. Yang itu bibirnya selalu terbuka. Yang satunya tak henti-henti tertawa. Berkali-kali aku beristigfar mengelus dada. Mungkin dari sekian banyak anak-anak itu, pasti ada yang usianya sebenarnya sudah sebaya dengan kami. Tapi masih harus duduk di tempat ini. Bergabung dengan anak yang usianya jauh dibandingkan dirinya. Hatiku meringis. Betapa kami tak pernah bersyukur Allah berikan kesempurnaan jiwa dan lahiriah ini. Kami tidak pernah berfikir bagaimana masa depan kami selanjutnya jika ternyata kami ditakdirkan seperti itu? Bagaimana perasaan orang tua kami? Apakah Mereka akan turut membenci dan mengolok-olok kami sebagaimana orang-orang tak beradab diluar sana? Sekali lagi aku mengusap dada, dan segera memohon ampunan-Nya.
            Langit tampak mendung dengan awan abu yang menutupi bias cahaya matahari siang itu. Kami tak membawa persiapan apapun. Kami mungkin harus pasrah jika nanti ketahuan Ibu halimah bahwa kami telah sejak lama membuntutinya.
            Dari kejauhan, Nampak sosok yang kami cari tengah menengok sebuah kelas yang sedang melaksanakan proses KBM. Bibirnya tersenyum, namun terlihat getir. Mungkin Iapun tak lepas dari perasaan mirisnya melihat rahasia Allah yang di limpahkan pada anak-anak luar biasa itu. Antara senang melihat mereka ceria, sedih lantaran menyadari keterbatasan mereka, dan getir menyelami nasib mereka. Sungguh akupun merasakan hal yang sama.
            “ Riana, lihat itu!...” Lina membuyarkan ketercenunganku. Mataku mengekor telunjuknya yang menunjuk segerombolan anak yang tengah berkelahi di tengah lapang. Hujan mulai deras mengguyur bumi. Dari kejauhan tampak para staf guru berlari hendak menghentikan perkelahian itu. Mereka sampai abai dengan seragamnya yang harus basah kuyup. Halilintar mulai menggelegar, disertai sinar-sinar pantulan kilat. Siang itu menjadi tampak menyeramkan bagi kami. Tapi aku mau tahu sebenarnya apa yang terjadi disana. Maka seketika aku turun juga kelapangan tanpa memperdulikan bajuku yang nantinyapun akan basah kuyup.
            “ Riana!...tunggu!...” Sinta dan Indah memanggil-manggilku. Namun aku abai. Akhirnya merekapun ikut turun kelapangan. Beberapa lama kemudian semua guru sudah turun, sedangkan murid-muridnya hanya menonton di koridor kelas. Ada yang malah tersenyum, tertawa-tawa, atau bahkan ada yang menangis histeris. Luar biasa runyam keadaan siang itu. Pada akhirnya Ibu Halimahpun turun tangan, dan segera menerobos kerumunan.
            “ Ya Allah, Tidaaaaak!!!...” Teriaknya.
            “ Tolong minggir semua, minggir!...” Baru kali ini kami menyaksikan amukannya. Semua orang mundur, termasuk anak-anak luar biasa yang sudah dipisahkan dari perkelahiannya itu. Namun ada satu yang tersisa di tengah-tengah. Yang Ibu Halimah sampai bersila diatas lapangan basah dan mengangkat kepala anak itu kepangkuannya.
            “ De, bangun De…” Ibu Halimah menampar-nampar pipi anak itu. Mimik Bu Halimah luar biasa keakutan, entah mengapa. Mungkin takut anak itu benar-benar tak sadarkan diri. Semua guru semakin merasa was-was. Beberapa mengusap air hujan dari wajahnya. Beberapa lagi memegangi anak-anak yang lain. Dan kamipun mulai ikut was-was. Namun  yang paling mengejutkan adalah,
            “ De, Dede…anakku,…bangun, Nak…bangun,…”
            Ketahuilah, yang kami perkirakan bahwa jikalau Ibu halimah memiliki anak laki-laki pasti wajahnya rupawan, otaknya cerdas, budi pekertinya tinggi. Ternyata siang yang dingin itu, telah membuka gerbang rahasia yang selama ini telah tertutup rapat itu. Dia, yang badannya gempal, pipinya telah biru-biru karena ditonjoki teman-temannya yang lain, lalu wajahnya yang sudah mulai memucat lantaran terlalu lama terguyur hujan, yang saat itu tengah berada dipangkuan Ibu Halimah itu adalah anaknya! Bukan siapa-siapa, dia adalah anak kandung Ibu Halimah. Anak yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa itu adalah anak seorang perempuan berintelektual dan berbudi tinggi bernama Ibu Halimah! Rasanya setiap titik hujan yang menghinggapi badan ini adalah titik-titik paku yang silih berganti menghujami tubuh ini dengan tajamnya. Kami semua tercengang. Dan kau tahu, botol air mineral yang di tenteng Ibu itu khusus diperuntukan buat anak tercintanya itu.
            “ Dede!!....Dede bangun, nak…hiks, hiks, jangan tinggalkan Bunda…” Dengan suara yang hampir tercekat, Ibu halimah meronta-ronta mendapati anaknya sudah tak sadarkan diri. Tangisnya meraung-raung memecah suara guyuran hujan. Anaknya telah tiada. Dan tak ada lagi yang tersisa.
            Sekarang kami tahu kenapa Ia senang sekali mendirikan lembaga pendidikan. Itu adalah bentuk pelampiasannya terhadap seorang anak. Ia mungkin merasa mendapat kesenangan batin saat bisa mengajar dan bertemu dengan anak-anak yang normal pada umumnya. Dan kenapa setiap senin Ia tak pernah ada di Sekolah, karena Ia harus berada di Sekolah Luar biasa ini.
            Ibu halimah dengan takdir pahit yang harus diterimanya. Kehilangan suami, kehilangan anak, dan kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun Ia tak kehilangan akhlak mulianya, luhur budinya. Ibu Halimah dengan kepahitan dan kesedihannya itu, laksana daun yang gugur namun tetap lihai menari bersama angin seiring jatuhnya kebumi. Aku menyimpan kisah ini dalam benakku, dalam-dalam, dan sekalipun tak akan pernah terlupa.
Taman Ilmu
25 Desember 2010
09.52

Sirnanya Hati di balik perempuan Misterius

 Oleh : Mulya nur jannah
Anggota Matapena Tasik divisi Perpustakaan 2010-2011

Sahabat...
Sirnanya hati karena lentera yang kau berikan tadi malam...
Seandainya gelap, aku tak mungkin bisa mengenalmu...
Saat itu...
Engkau seperti malaikat yang diutus tuhan untuk memberikan lentera itu...
Kamu cukup misterius untuk aku kenal...
Tapi...
Aku cukup bahagia mengenalmu...
Kamu mengarjakan aku banyak hal...
menjalani hidup yang penuh dengan tantangan...
Kamu terlalu baik untuk aku kenal...
Namun aku berharap aku bisa sepertimu ...
Membentangkan kebaikan kepada orang lain...
dan aku salah satu orang yang merasakan ...
Aku fikir aku tak lebih dari seekor merpati putih...
yang mencari tempat dimana ia akan berteduh...
Tatkala malam Ia melayang tak tentu arah..
Karena lentera itulah aku bisa melakukannya...
Bahkan aku mendapatkan tempat untuk berteduh...
Dimana tempat itu terlalu asing bagiku...
Sekarang aku tak peduli lagi dengan semiua masa laluku yang suram...
Ku harap kamu bisa membuka hatimu...
Untuk menyimpan katamaafku...

  Seandainya Azira menyadari hidufnya tak seperti langit Azira hidup ibarat sebuah awan ,awan yang hanya bisa bergerak kala angin menghempaskannya , berharap tak ada hujan di matanya .
  ''Ayah cukup ...............''Teriak Azira
Saat itu orang tuanya bertengkar entah apa yang mereka masalahkan saat itu , Rasanya kejadian itu membuat nya merasa tak betah berada di rumah .
  ''Bu, Ayah .....!!! Azira kecewa sama kalian kenapa tak ada sedikitpun tawa di keluarga kita Azira butuh itu bukan ini yang Azira harapkan dari kalian Azira butuh kasih sayang kalian, Azira benci sama kalian."

  Air matanya jatuh tak seperti yang diinginkan memandang kedua wajah yang sangat ia sayangi, marah, kecewa, sayang, semua menyatu tanpa arah di hatinya.
Setelah lama berdiri menatap kedua wajah mereka entah ini yang terakhir atau bukan, Azira melangkahkan kakinya keluar rumah, tak ada jawaban yang keluar saat itu hanya seutas keheningan yang menggenang rasa bersalah di wajah mereka.
Ternyata suramnya hidup Azira dengan keluarga yang sat ini ia jalani.
  " Hei...........ngelamun zir????" ucap Rika.
Suara itu menyadarkan lamunan Azira.
  " Alah loe naggetin ajja rfik" tepisnya
  "Azira sadar donk ini uddah jam istirahat tau" timpalnya
  "Kenapa aku ingat kejadian itu??? gak aku harus kuat aku akan nikmatin hidup yang sekarang mewarnai hidupku" batinnya.
  "Hei mau gak?????" ucapnya lagi.
  "Iya iya tunggu"
Mereka terus berjalan menelusuri kelas, kelas yang mereka lewati, tapiiiiii
Brug..................
  "Au jerit orang itu".
Orang itu terjatuh Azira tidak sadar dirinyalah yang menabrak perempuan didepannya, Azira memang apatis dengan perasaan orang lain.
  "heh kalaau jalan liat liat donk!!!! punya mata gak sih loe?????" tepis Azira.
Perempuan itu hanya tersenyum.
  "Kenapa dia malah tersenyum" ucap batinnya.
  "Salam kenal Zir aku Mika, semoga kamu bisa cepet berubah ya,...!!" timpalnya.
Perempuan itu pergi dari hadapan Azira dan Rika.
  "Siapa sih orang itu????? Di lihat dari wajahnya dia seperti anak baru" fikirnya.
Wajah didepannya barusan memang asing di mata Azira namun ia tidak menghiraukannya.

  Setelah jam sekolah selesai Azira dan Rika berniat menemui ayah dan ibu Azira memastikan mereka sudah berbaikan berharap akan ada tawa, berharap tak ada lagi air mata di mata Azira.Tapi apa yang Azira dapatkan????? ternyata harapan demi harapan yang kian Azira rangkai sudah tidak berarti lagi di hatinya.
  "ayah???????" ucap Azira
  "Azira????" ayah terjkejut sewaktu Azira melihat dia dudk bersampingan dengan perempuan lain kedua mata mereka tak lepas melihat keadaan, mungkinkh kejadian ini adalah luka kedua yang di berikan ayah.
  "Oh jadi ini yang ayah lakukan disaat saat keluarga kita seperti sekarang??? Ayah jadikan kesempatan untuk berduaan dengan perempuan gila kaya dia sambil menunjuk perempuan yang sedang berduaan dengan ayahnya itu. Heh......sihir apa yang uddah loe kasih ke bokap gue dengan mendorong pundak perempuan itu hingga jatuh" tepisnya.
Tapi perempuan itu malah tersenyum dan menjawab perkataan yang Azira katakan.
  "Ayhah kamu saja yang mau denganku...."ucapnya.
Azira geram dengan apa yang ia dengar.......lalu..............
Plak..................tangan Azira mendarat di pipi perempuan itu.
  "Azira cukup.......".kesal ayahnya.

Tangan ayahnya sudah hampir menampar Azira.
  "Tampar yah..... tampar Azira gak peduli.....Ayah sadar gak sih???? Azira kesini tuh Azira kangen sama ayah, tapi apa yang ayah kasih ke Azira???inikah yang ayah kasih buat Azira????? Azira benci sama ayah".
Rika fdan Azira berlari keluar. Perasaan Azira benar benar tak karuan saat itu. Entah apa yang ia rasakan???? yang pasti ia benar benar membenci ayahnya.
  "Rik!! kenapa hidup aku tuh kaya gini trus??????"
Dia hanya terdiam dan berkata aneh kepada temannya itu.
  "Ma'af zir bukannya aku gak mau menolong kamu tapi aku tidak mau ikut campur dengan urusanmu. Jujur ya aku nyesel punya temen kaya kamu yang bisanya cuma nyusahin doank.... aku cape liat semua masalah kamu. Kamu itu terlalu sombong sama orang orang yang ada di sekitarmu, mungkin ini balasan untukmu aku harap kamu bisa berintrofeksi diri dengan apa yang telah aku ucapkan padamu".
Rika pergi meninggalkan Azira sendiri.Azira terdiam mendengar perketaan temannya itu. Seandainya semuanya dapat terlukiskan mungkin kejadian ini tak akan terjadi selainkan kehilangan keluarganya ia juga kehilangan sahabat dekatnya mungkinkah Azira mampu maenjalani waktu yang akan ia ubah. Azira hanya terdiam menangis sepi menepis keadaan.
Setelah lama berjalan dari kejauhan Azira melihat sosok perempuan yang sedikit Azira kenal.
  "Mika??????????"
Azira teringat akan kesalahannya pada Mika ketika dulu ia menabraknya,perempuan itu vcukup misteriusuntuk di kenal sedikitpun Azira tidak mengenal Mika karena memang dia anak baru di sekolah. Saat itu Azira merasa bersalah pada Mika.
  "Azira????? lagi ngapain kamu malem malem gini disini???? kamu udah sholat belom?? pasti belom ya????" candanya.
 Azira hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
  "Zir kamu kenapa sih???? apa kamu lagi sedih ya????? aku liat liat sih wajah kamu bener bener keliatan sedih,,, cerita donk!!!! ayo.........." bujuknya.
Azira pun malah memeluk Mika dengan erat dan diapun menangis dipelukannya.
  "Zir kamu kenapa tiba tiba nagis???? coba sekarang kamu cerita aja ma aku!!! Insya Alloh aku akan cari solusi buat semua masalah kamu......."
  "Mika maafin aku ya!!!!!!! selama ini aku udah punya banyak salah ma kamu, apa kamu mau maafin aku????".
  "Ya Alloh Zir kamu itu kenapa sih??? nyantai aja lagi lagian dari dulu aku itu udah maafin kamu".jawabnya.
Azira benar benar terkejut setelah mendengar jawaban azira rasanya cukup membuat azira merasa tenang dengan beberapa masalah yang hadir Mika nasih mau memaap kan kesalahan Azira meski Azira tau perasaan mika saat itu memang kecewa sama dirinya .
  ''makasih zir...!!!!!!''jawabnya
  ''trus km nangis kenapa ada masalah ???km cerita sama aku siapa tau aku bisa bantu kamu !!'' pinta Mika
  ''mik sebenarnya aku bingung ... dengan apa yang udah terjadi pada hidup aku , aku kehilangan semua orang yang berarti dalam  hidup aku kenapa km masih bisa memaapkan aku di mata orang lain saja aku udah di pandang sebelah mata apa lagi sama kamu !" jelasnya.
  "ooh jadi maksudnya kamu berubah hanya karena masalah ini ? dari awal aku yakin kok kalau kamu itu anaknya baik ! sekarang aku tahu apa penyebabnya." Ujarnya.
  Malam itu Azira menceritakan semua masalahnya pada Mika. Rasanya sedikit tenang, meskipun memang keadaannya belum begitu baik. Dengan menceritakannya saja Azira sudah cukup lega.
  "Makasih ya Mik ! Karena kamu, aku bisa berfikir hidup ini memang penuh dengan tantangan. Namun karena semangat dan bujukan dari kamu, aku yakin kalau aku bisa melakukannya !." Ucap Azira.
  Ternyata memang hidup itu tidak selalu berada di atas, kapanpun dan bagaimanapun kita bisa saja jatuh ke bawah.Ternyata inilah hidup Azira. Kini Ia sadari tak seharusnya Ia merubah sikapnya, hanya karena bentuk cobaan yang mewarnainya. Tapi berusahalah untuk bisa tegar.

Rabu, 22 Desember 2010

Ratu Nyontek !! Oh no !!

 Oleh : Nafi'ah Nurfadhillah
Anggota Matapena Tasik Divisi Blog, 2010-2011

Dipagi hari yang cerah. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah bersama dengan sahabatku Syaira. Syaira anak yang baik, sejak kecil aku sudah bersama dengannya.Saat di perjalanan, aku merasa akan terjadi hal yang tidak ku inginkan.
Sesampainya di kelas, aku melihat teman-temanku sedang serius membaca buku, tepatnya "FISIKA". Aku berjalan melewati bangku temanku Rista. Ia anak yang rajin, maksudku dalam kegiatan NYONTEK.
  "Hey..rajin banget pagi-pagi gini udah buka buku ! pake ada acara ngafal segala lagi ! jhaaaa !" Tanyaku mengganggu keseriusan temanku itu.
  "Yey..kemana aja loe !!! kalau sekarang gak ada ulangan dari Pak Simanjuntak, gue juga gak bakal mau rajin-rajin baca buku ! lagian tebelnya udah kaya kamus aja !" Jawab Rista agak sewot.
  "Hah?? ulangan?? kapan diumuminnya ?? gila, gue belum belajar lagi !! bisa mati gue !!" Jawabku spontan.
  "Udah dari kemaren kali ! makanya kalau pelajaran Pak Simanjuntak jangan tidur mulu ! rasain loe !   haaa...haaa.." Ristapun tertawa melihat ketegangan diwajahku.

Pak Simanjuntak adalah guru yang sangat galak dikalangan guru-guru yang lain. Beliau termasuk guru yang sangat menyebalkan. Panggilan kesayangan anak kelas 9-3 padanya adalah Mr.Rious.
  "Tek...tek...tek..." Suara sepatu Mr. Rious membuat seisi kelas terdiam seketika.Tiba-tiba...
  "Kumpulkan semua buku dan tidak ada satu buku atau kertas pun di atas meja ! jika saya menemukan siapa orangnya, lihat saja rapornya nanti !" Ancaman Mr. Rious membuat jantungku terasa ingin copot.

Selama ulangan, tidak bosan-bosannya Mr. Rious mengelilingi bangku satu persatu murid yang sedang mengerjakan soal. Saat Mr. Rious sedang asyik duduk di bangkunya, aku melihat wajah teman-temanku seperti tidak berdaya. Seakan sedang menghadapi masalah yang sangat besar yaitu soal ulanagan yang diberikan oleh Pak. simanjuntak. Namun saat aku menoleh ke samping kananku, aku melihat keseriusan Rossa dalam mengerjakan soal. Wajar saja, karena Ia adalah murid yang berprestasi di sekolah unggulan ini yaitu SMPN 109 Jakarta. Karena kecerdasannya, membuatnya menjadi anak yang sombong. Hampir semua anak di sekolah ini tidak menyukainya karena kesombongannya itu.

Kembali lagi aku melihat soal "FISIKA" yang diberikan oleh Mr. Rious dan membuat kepalaku terasa ingin pecah. Bayangkan saja dari 8 soal, hanya 6 yang dapat ku jawab.
  "Lima menit lagi !!! selesai tidak selesai, harus dikumpulkan." Jelas Pak. Simanjuntak membuta seisi kelas ramai dengan teriakan anak-anak, kecuali Rossa. Ia terlihat santai mengerjakan soal itu. Tidak lama kemudian....
  "Waktu habis !!! kumpulkan semuanya !" Teriakan Pak.simanjuntak menggemparkan kelas. Mau tak mau aku harus mengumpulkan kertas ulanganku.

  "Teeet...teet...teet...!!!" Bel istirahat pun berbunyi.
Kelas mulai ramai kembali saat Mr. Rious pergi meninggalkan kelas.
  "Hey... kalian puas tidak dengan ulangan tadi?" tanya ketua kelasku.
  "Tidak!!! jawabku dan teman-teman serentak.
  "Gimana mau puas, kalau kalian tidak belajar! untungnya aku mempunyai kelebihan dalam menghafal. Jadi walaupun hanya sekilas belajarnya, tetap saja aku bisa menjawabnya !" Jawab Rossa membanggakan dirinya sendiri.
  "Aku akui kamu memang pintar ! tapi bukan pintar yang seperti itu yang membuat orang-orang bangga padamu !" Rista menyindir.
  "Maksud kamu apa?" Tanya Rossa.
  " Janagn mentang-mentang kamu pintar, kamu bisa membuat orang-orang bangga kepadamu ! hanya karena sikapmu yang sombong seperti itu malah membuat orang-orang muak melihatmu !!!" Jawab Rista.

Perkataan Rista memang selalu menyakitkan, namun itu semua fakta. Sudah sering teman-temanku sengaja menyindirnya agar Ia sadar, namun sampai detik ini pun Ia belum juga sadar. Tidak banyak yang yang ingin berteman dengannya. Selain karena kesombongannya itu, juga karena omongannya yang selalu membuat orang lain sakit hati.

  "Hey..Din aku gak nyangka deh kalau Rista bisa berkata seperti itu !" Ucap Syaira memulai percakapan.
  "Iya aku juga !! tapi, kenapa Rossa tidak sakit hati dengan ucapan Rista ya ?" Tanyku
  "Iya ya...mungkin karena sudah terbiasa kali dengan omongan-omongan yang seperti itu !"
  "Mungkin saja !"
  "Kasihan juga ya Rossa ! Kalau saja Ia tidak sesombong itu." Ucap Syaira dibenarkan olehku.

  "Sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian Nasional (UN). Kurang lebih satu minggu lagi. Bapak harap kalian belajar dengan giat selama masih ada waktu ya !!" Ucap Pak. Nanang, wali kelas kelas 9-3.
  "Yaaa sebentar lagi dong Pak !!" Ujar Rio ketua kelasku.
  "Biasa aja kali !!!" jawab Rossa sedikit sewot dan membuat anak-anak menjadi semakin muak padanya.

Hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah, karena besok anak kelas 9 sudah menjalankan "UN".
  "Duch aku harus belajar giat untuk UN besok !" tegasku kepada Syaira sahabatku.
  "Iya ! aku juga harus demikian ! Good Luch ya sobat ! Ucapan Syaira seakan memberikan semangat kepadaku.
  "Ya!! sama-sama !" balasku.

Ke esokan harinya, saat yang paling menegangkan bagiku dan anak kelas 9. Karena saat i ni adalah saat pertama kalinya aku dan teman-teman seperjuanganku menghadapi "UN" atau Ujian Nasional. Saat aku memasuki ruangan ujian, ternyata bangkuku bersebelahan dengan bangkunya Rista. Aku merasa sedikit terkejut. Karena Ia terkenal dengan sebutan Raut NYONTEK.

Bel pun berbunyi, pertanda ujian sudah dimulai. Pelajan pertama yaitu pelajaran B.Indonesia, aku merasa biasa-biasa saja soalnya pun tidak terlalu sulit. Karena semalam aku benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh. Aku mengerjakan soal itupun lebich cepat dari waktu yang sudah ditentukan. Aku mengoreksi jawabanku kembali, saat aku menoleh ke arah jendela, aku melihat Rista sedang membuka secari kertas dari bawak kolong mejanya. Aku yakin itu pasti trik-nya untuk NYONTEK. Ya.. begitulah kebiasaannya setiap ujian.

Hari pertama ku lewati dengan santai, karena alhamdulillah aku dapat menjawab semua soal. Menurut teman-teman, aku termasuk anak yang rajin dan pandai. namun aku tidak sepandai Rossa. Aku pernah mendapat juara kedua saat kelas satu SMP, dan juara pertama saat kelas dua SMP.
  'Mungkin hanya kebetulan saja !' Batinku.
Namun saat Rossa baru pindah ke sekolah ini, aku ndikalahkan olehnya. Aku merasa Ia selalu mengajakku bersaing dengan nilai-nilainya. Ingin rasanya aku dapat juara pertama kembali. Dan inilah kesempatan terakhirku untuk membuktikan kepadanya bahwa bukan hanya dia yang pintar di sekolah ini.

Satau minggupun sudah terlewati. Inilah hari terakhirku mengerjakan soal ujian yaitu Matematika. Saat dipertengahan ujian, saat itu juga pengawas sedang berada di luar. Tidak sengaja aku melihat Rossa menggenggam secarik kertas yang aku tak tahu apa isinya. Aku nterkejut bukan main. Ingin rasanya mengingatkannya. Namun aku takut di keluarkan dari kelas karena kesalah pahaman. Tanpa aku dan Rossa sadari, ternyata Pak. Simanjuntak berada tepat di jendela samping bangkunya Rossa dan berkata
  "Rossa !!! sedang apa kamu ? kamu berani nyontek ya !!" Teriak Pak. Simanjuntak sambil membentak Rossa.
  "Karena kaget, kertas itu langsung dilempar Rossa entah kemana. Rossa pun menangis. Ternyata semua sudah terjawab, kepandaiannya bukan karena Ia memang benar-benar pandai, namun karena kepandaiannya dalam membuat contekan. Tidak jauh beda dengan Rista.

Rossa pun dipanggil ke kantor untuk mengerjakan ujian disana karena ulahnya sendiri.

Sepulang dari ujian, aku berbincang-bincang sebentar bersama Syaira.
  "Aku benar-benar tidak habis fikir sama kelakuannya Rossa yang hampir menggemparkan sekolah. Kok berani-beraninya Ia bikin contekan seperti itu !" Celoteh Syaira agak sewot.
  "Iya ! padahalkan dulu dia pernah bilang kalau tanpa contekanjuga dia bisa mengerjakan soal sendiri." Jawabkau
  "Iya!! lebih baik kamu Din !!! sudah cantik, pintar, baik,gak sombong lagi ! dan satu lagi ... bukan pembohong !" Ujar Syaira.
  "Ha..ha..ha..dasar !" aku hanya tertawa kecil kepadanya.

Hari ini adalah hari pembagian rapor dan pemberi tahuan siapa mirid yang berprestasi. Hari ini adalah hari yang sangat menegangkanku. Aku menunggu namaku dipanggil. Tidak lama kemudian...
  "Adinda Nafi'ah Angraini !!!" Namakupun dipanggil. Didalam ruangan guru, orangtuaku diberikan surat kelulusanku, dan aku dinasehati oleh guru-guruku.

Saat aku keluar, tidak sabar rasanya untuk membuka surat kelulusan itu. Akhirnya dengan rasa yang bercampur aduk, aku mebuka surat itu. Hasilnya adalah...
  "Yeeeeeeee !!!!!!!! aku lulus !!! Ayah, Bunda aku lulus !" Teriakku sekencang-kencangnya.
Dan tiba-tiba teman-temanku datang menghampiriku lalu berkata
  "Selamat ya !!! kamu sudah berhasil, dan mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini !" ucap teman-temanku.
  "Dialah Idola sekolah kita yang sebenarnya!!! yeeeeeee !!!" Teriak Syaira disambut meriah oleh teman-temanku.
  "Thank's ya Ra !!!" Ucapku.
  "ya sama-sama." Balas Syaira dengan senyuman persahabatan yang manis.



We Want Came Back !

 Oleh : Solawatil Furqoh
Anggota Matapena Tasik Divisi Blog, 2010-2011


Pada hari itu, kelas 6 di Madrasah Jakarta mulai menghadapi UAN. Sebagian di antara mereka lulus, dan dua yang tersisa dengan lulus bersyarat. Di antara mereka ada yang melanjutkan sekolah di pondok pesantren, tsanawiyah, ataupun SMP Negri lainnya. Mereka masuk ponpes, dengan berat hati untuk menerima sekolah yang tidak di harapkan karena keinginan orang tuannya. Jarak ponpes mereka sangat jauh, bagaikan bumi dan langit yang terpisah, bukan jarak yang di tempuh dengan bermenit-menit.
Orang tua mereka berangkat ke ponpes untuk mendaftarkan tiga orang anak yang melanjutkan sekolah ke ponpes. Diantaranya Mawar, Melati dan Mentari. Setelah Pak Nico, Pak Laras dan Pak Jony mendaftarkan anak-anak mereka. segeralah mereka membawa mawar, melati dan mentari untuk diTes dan  menentukan apakah mereka di terima di ponpes? ataukah mereka harus mencari ilmu di tempat yang lainnya? mereka harus menghadapi tes tulis dan tes lisan, bisa di bilang untuk bahasa gaulnya berbincang-bincang.
Semua telah dilakukan mawar, melati dan mentari. mereka hanya menunggu hasil tes yang sudah mereka lakukan. mawar, melati dan mentari berdo'a dan terus berdo'a supaya mereka tidak dterima di Ponpes. Keinginan mereka rapuh sudah. setelah orang tua mereka memberi kabar kalau mawar melati dan mentari di terima untuk mencari ilmu di Pondok Pesantren. hati orang tua mereka sangat senang atas diterima nya mawar, melati dan mentari. tapi di sisi lain, kesedihan menyelimuti hati mereka karena mereka diterima di Pondok Pesantren.
"mawar, kenapa kamu tidak senang masuk ponpes?" tanya pak Nico
"mawar gak punya keinginan untuk masuk ponpes, ini semua keinginan kalian!!!" jawabnya dengan nada agak kasar
"looh!!! mengapa mawar berharap seperti itu nak?? papah mau mawar jadi orang yang sukses"
"karena mawar gak punya keinginan untuk mencari ilmu di ponpes"
"Ya allah mawar.... kamu gak akan merasa kesepian kalau kamu mencari ilmu ponpes. kamu akan selalu merasa senang dan ramai, karena di sekeliling kamu banyak teman-teman yang selalu membuat mawar senang kalu mawar sudah akrab dengan mereka" terang papah
"Yaa sudah.. sudah terlanjur diterima... nasi sudah menjadi bubur, waktu gak bisa diputar lagi" ucapnya dengan nada yang pasrah
"Nah... harus seperti itu.. jalani semua dengan ikhlas, insya allah di balik semua ini akan ada hikmahnya, dan mawar akan cepat betah di ponpes" ujar papah
mawar hanya menangis meratapi semuanya. karena mawar belum siap untuk masuk ponpes.
esok harinya, mawar mencoba lagi bertanya pada papah.
"pah!!" sapa mawar
"apa? mau sekolah gak?" jawab papah dengan wajah yang melirik pada mawar
"ya mau dong! tapi gak mau di ponpes"
"kan mawar sudah diterima di ponpes, masa mau keluar sih?!"
"papah..... mawar gak mau sekolah di ponpes"
" ya sudah kalu gak mau, mawar gak usah sekolah saja!"
"iya... iya.... " ucapnya dengan nada kecewa." sudah tidak bisa di batalkan". ucapnya dalam hati
mamah, mawar dan papah pergi ke mall untuk membeli keperluan yang harus dibawa ke ponpes. mawar sangat berat hati untuk menerima ini semua. karena mawar sangat dekat dengan papahnya, mawar tidak mau mengecewakan sesosok papah yang di sayanginya.
Tiba hari keberangkatan mawar, melati dan mentari menuju Ponpes. tepat tanggal 6 juli mereka sudah menginjakkan kaki di ponpes tercinta. Sesampainya diasrama. mawar, melati dan mentari memilih kamar untuk tempat beristirahat dan berlindung. dan mereka memilih kamar 1, dan mereka satu kamar.
perlahan keluarga mawar, melati dan mentari mencoba bernjak pergi untuk meninggalkan mereka. mereka menangis ketika mobil mencoba untuk di jalankan.
"udah dong sayang ... jangan nangis terus... kan mel mau mencari ilmu disini" ucap mom melati lirih
"mOm.. mel mau pulang.. mel gak mau sekolah disini.." rengeknya
"udah dong sayang jangan nangis..."
"mom.. nanti kalau mel ketinggalan zaman gimana?? ntar men dibilang nDeso lagi!!"hiks hiks hiks
"niatin dihati mel untuk mencari ilmu.. enggak yang lain"
"udah.. udah.. cepetan dong!! sudah maumalam nih.." teriak dady
hiks  hiks  hiks
perlahan mobil keluarga melati melaju dan melati harus dititipi di pondok ini. Pembimbing kamar melati datang, dan menyuruhnya masuk ke kamar untuk membereskan barang-barang dan berkenalan dengn teman-teman yang lainnya.
                                     #                     8                  #                       8                  #

Satu minggu sudah dilewati bersama. hari yang ditunggu-tunggu sudah datang dan menghampiri mentari. keluarga mentari datang untuk menjenguknya.
"pak, bu' aku pengen pulang" ucap mentari
"Looh!! kok pulang? kan kamu baru seminggu. kok sudah mau pulang?"jawab pak jony dengan nada jawanya
"aku gak betah disini oo.. pak!"
"nanti.. nanti.. kalau kamu sudah lulus yoo"
"memang aku mau sampai kapan disekolahin disini?" tanya mentari
"yaa.. sampai kelas 3 SMA toh!"
"haaah..... lama teo pak? aku gak mau pak... aku tak pindah yoo?"
mentari terus meminta pindah. luluh hati pak jony melihat anak semata wayangnya itu, kurang nyaman mencari ilmu di ponpes itu.
"jangan pulang dong nak!! nanti kamu gak betah-betah disini" bujuk ibu
"emang aku gak betah neng kene kok pak!! aku tak pindah yaa?" pintanya
mentari terus merengek-rengek dan terus menceritakan mengapa ia tidak betah di ponpes. dan akhirnya keinginan menteri di kabulkan oleh pak jony dan bu yani. karena mereka tidak tega melihat anaknya tidak nyaman ada di ponpes. mentari pun keluar dan melanjutkan sekolah di Jakarta, tempat dimana bapak dan ibunya mencari nafkah.
hiks.. hiks.. hiks.. kesedihan harus ada pada mawar dan melati. karena salah seorang sahabatnya ada yang pindah. keberangkatan mentari membuat iri hati dan ingin pindah juga.
Hari demi hari telah dilewati dengan hati yang belum juga ikhlas. membuat melati jatuh sakit dan segera dibawa ke puskesmas oleh pihak Pondok Pesantren. karena badan melati sangat panas. pihak puskesmas tidak sanggup untuk menangani melati, karena tempat puskesmas kurang memadai. dibawa nya lagi ke rumah sakit umum. dan dokter langsung menangani melati. setelah beberapa menit , dokterpun keluar danmemberi tahu keadaan melati.
"dok, bagaimana keadaan melati?"tanya ustadzah
"melayi terkena tifus" jawab dokter dengan singkatnya
"astaghfirullah....... melati??"
"ustadzah.. bagaimana kalu kita beri tahu ornag tuanya saja?" salah orang santri menyarankan
ustadzah menerima sarn santri tersebut dan segera menghubingi orang tua melati.
setelah menerima kabar bahwa melati terkena tifus, papah dan mom melati segera pergi walau harus menempuh jarak yang lama.
"mom.... tenang, jangan dulu pingsan. sekarang kita berangkat untuk melihat kondisi melati" ucap pak Laras. tanpa basa basi orang tua melati berangkat. karena mih melati sudah tidak kuat menahan isah tangisnya.
setelah sampai di Rumah Sakit umum yang di beri tahu ustadzah melati, ternyata ustadzah sudah  menunggu di depan pintu RS. dan mempersilahkannya untuk segera melihat kondisi melati. dan ternyata melati sudah siuman.
"sayang... kamu sudah siuman nak?" ucap mom melati
"mom, aku pengen pulang. aku pengen pindah dari ponpes itu"pinta mel
"Looh... kenapa mel gak mau di situ? kenapa minta pindah?" tanya mom melati
"pokoknya mel gak mau sekolah di situ lagi, mel mau pindah dari situ" pintanya sambil mengeluarkan air mata dan membuat suasana menjadi terharu
"Ya allah melati!!"
hati mom melati sangat menyesal.karena telah menyekolahkan anaknya dengan kemauan dan keegoisan orang tuanya saja.
"sudah bu, kabulkan saja apa yang melati mau.... insya allah dengan apa yang dia mau, dia akan cepat sembuh dan bisa menjalani hari-hari nya dengan penuh suka dan cita" jelas ustadzah
ustadzah terus meluluhkan hati mom melati. dan Setelah Berfikir......................
"baiklah ustadzah.. saya akan coba" jawab mom melati dengan penuh keyakinan
"ya sudah kalau begitu... besok kita bawa barang-barang mel" ucap papah
"iya sekalian ke kepala sekolah dulu" tambah mom
"ya sudah bu... kalau begiru saya pamit dulu.. "ucap ustadzah
"ustadzah... terima kasih banyak... maafin melati ya ustadzah kalu dia punya salah"
"iya bu... mari... assalamualaikum..."
"waalaikumsallam"
Setelah beberapa minggu di rumah sakit, melati sangat rindu dengan rumahnya. dan segeralah ia menuju kamar nya ynag serba un'o'u, sama seperti kamar mawar dan mentari. melati merih boneka kesayangannya yang sudah lama ia rindukan.
tok... tok... tok....
"iya masuk" ucap melati
"mel, gimana?? kanen ya?" tanya mom
"iya... kanen bangeeet"
"trus.. sekarang kegiatan kamu mau apa?"
"maunya sekolah, tapi gak mau balik ke tempat kemaren" rengeknya
"yaa.... trus mau sekolah dimana??"
"di stanawiyah aja mom!"
"iya.... nanti mom daftarin dulu... ya sudah sekarang cepetan mandi dulu"
melati pun melanjutkan sekolahnya di stanawiyah Jakarta.
                                          *                  8                 *                  8                   *

Di asrama, mawar hanya sendiri meratapi nasibnya. tidak mempunyai sahabat seperti melati dan mentari, membuat dirinya tidak betah tinggal di asrama. teman-temannya terlalu sombong dan susag diajak beradaptasi. tetapi, kalau di kamar mereja selalu baik.
"mawar... mawar..." teriak seorang ustadzah
"apa ustadzah?" jawab mawar sambil berlari tuk menghampiri ustadzah
"ini, tadi mamah kamu nelfon" jelas ustadzah
"tut.. tut.. tut.." handphone berbunyi
"mawar ini angkat!" ucap ustadzah, sambil memberikan handphonnya
"hallo..... assalamualaikum... mah ada apa?"
"waalaikum salam.... de' kamu bisa pulang gak sayang?" tanya mamah
"emang adaapa mah? kok mendadak gini?" tanyanya penasaran
"nenek masuk rumah sakit" jelas mamah
"astghfirullah.... mah kenapa?"
"ya sudah cepat izin ke ustadzah"
"mah, aku gak berani izin ke ustadzah"
"ya sudah, biar mamah yang izin ke ustadzah" mawar memberikan handphonenya ke ustadzah
"hallo ustadzah"
"ya ibu ada apa?" tanya ustadzah
"ustadzah mawar mau izin pulang.. neneknya masuk rumah sakit" jelas mamah
"ooh.... ibu silahkan! tapi harus dijemput dari rumah"
"iya ustadzah.... terima kasih... assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
mawar pun pulang dijemput oleh supirnya. Sesampainya dirumah, mawar langsung beramngkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan neneknya.Ketika dirumah sakit, mawar dan mamahnya langsung menuju kamar nenek dirawat. Dokter pun keluar dari kamar nenek
"dok gimana keadaan ibu saya?" tanya mamah
"saya perlu bicara dengan keluarganya" ucap dokter
"saya anaknya dok! dan ini cucunya" jawab mamah
"ikut keruangan saya, tapi saya harap anak ibu jangan ikut!" jelas dokter
"de' kamu tunggu diluar saja ya" kata mamah
"iya mah!" jawab mawar
mamah mawar pun masuk ke ruangan dokter. untuk mendapatkan penjelasan dari dokter tentang keadaan nenek mawar.
"dok! bagaimana keadaan ibu saya?" tanya mamah
"begini bu, keadaan ibu anda sudah mulai lemah, dan mudah  terserang penyakit, itu semua di sebabkan karena ibu anda sudah lanjut usia" jelas dokter. Mamah pun semakin penasaran.
"apa penyakit yang menyerang ibu sya?" tanya mamah kembali
"ibu anda terkena penyakit jantung"
"astaghfirullah...." ucap mamah kaget
"baik bu, ini resep untuk ibu anda. tolong di atur pola makanannya. dan ingat jangan pernah memberi tau apapun yang membuat ibu anda terkejut. karena itu semua berbahaya" jelas dokter
"terima kasih ya dok!" mamah pun keluar dari ruangan dokter. Mamah tak percaya dengan apa yang terjadi terhadap nenek. karena mamah slalu melihat nenek sehat dan bugar. tpi, ini kehendak allah, kita hanya bisa menjalaninya dengan sabar. mamah dan mawar pergi keluar untuk mengambil obat di apotek.
mawar izin untuk neneknya cukup lama. karena keadan selalu saja menghambatnya untuk pulang ke asrama.
"ya allah.... mawar tidak betah di pondok, mawar ingin pulang terus... ada apa ya allah? mawar ingin keluar dari pondok, karena sekarang mawar ada dirumah, mawar ingin bicara sama mamah" batin mawar
mawar dan mamah menunggu nenek dikamar. mawar memberanikan diri untuk bicara apa yang ingin dibicarakannya.
"mamah, mawar ingin pindah dari pondok" tegas Mawar.
"loh...!memang ada apa?" tanya mamah.
"Mawar tidak betah di pondok !" jelas Mawar.
"Loh kok gitu sih?apa ada masalah sama teman-temanmu?" tanya mamah.
"iya..! mereka semua baik, tetapi jika Mawar sedang susah, mereka tidak pernah membantu Mawar !"
Mamah mengerti apa yang dirasakan Mawar, karena Mawar terus menangis tanpa henti, Mamah pun merasa iba kepadanya dan mengizinkannya pindah sekolah.
"yasudah kalau begitu! nanti kalau sudah pindah, Mawar ingin sekolah dimana ?" tanya mamah.
"Benarkah mah? Mawar ingin di MTs bersama Melati dan Mentari." jawabnya riang.
"Yasudah nanti mamah yang mengurus surat kpindahanmu ya sayang ! sekalian mengambil barang-barang kamu di sana."

Keinginan Mawar dituruti oleh mamahnya.
'Akhirnya aku bisa bertemu dengan teman-teman lamaku lagi.' Batin Mawar.
Dan Mawarpun bisa merasakan hidup yang sebenarnya.
'Terima kasih mamah.....!!!!' Batinnya sambil tersenyum.