Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Dapur Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dapur Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2014

Twit..Twit..Jadi Buku!

Kecanggihan internet dan segala sesuatu yang hadir di dalamnya sepertinya sudah menjadi berkah tersendiri bagi penulis serta pengusaha penerbitan belakangan ini. Salah satu bukti nyata adalah semakin menjamurnya beragam sosial media yang selain menjadi alat penghubung antar sesama, juga mampu menghasilkan sebuah karya! Nggak percaya? Ayo kita buktikan.
Tren Buku dari Masa ke Masa
            Buku selain menjadi kebutuhan akan kehausan ilmu, ternyata juga bisa menjadi gaya hidup. Dari masa ke masa perkembangannya selalu berubah. Dari mulai gaya bahasa, genre, ragam cerita, kemasan sampai teknik promosinya selalu punya khas yang kemudian menjadi tren tersendiri dalam dunia perbukuan terutama di Indonesia.
            Masih lekat dalam ingatan kita pada zaman kolonialisme buku-buku fiksi banyak disesaki oleh cerita-cerita perjuangan, sejarah, maupun konflik negara. Munculah banyak nama penulis seperti Pramoedya Ananta Toer dengan tetralogi Pulau Buru-nya dll. Atau ada saatnya juga ketika komunitas-komunitas kepenulisan di negeri ini mulai eksis, dan menghasilkan tren baru perbukuan dengan lebih banyak menulis keroyokan dalam satu buku. Tak heran kala itu banyak dijumpai buku-buku antologi cerpen maupun puisi.
            Lebih jauh kedepan, ketika kebosanan akan genre tulisan mulai melanda para pelahap buku terutama fiksi, munculah tren teenlit. Teenlit sendiri merupakan trade mark  atau signature yang disematkan penerbit pada buku-buku berbau remaja dan cinta. Kebanyakan para penulisnya sudah tentu remaja. Buku semacam teenlit ini sangat renyah untuk dibaca, di samping cerita dan bahasanya yang ringan, penulis pun tidak terlalu mengedepankan gaya bahasa seperti buku karya sastrawan. Sehingga membacanya pun terkadang habis hanya dalam tempo hitungan jam saja. Salah satu penulis teenlit yang jadi trendsetter kala itu adalah Rachmania Ayunita dengan novel romantisnya yang juga diangkat ke layar lebar, Eiffel I’m In Love.  
            Selanjutnya, penulis dengan buku yang kembali membuat trend adalah Habiburrahman El-Shirazy dengan Ayat-ayat Cinta-nya. Bagaimana tidak, buku ini hampir dimiliki kebanyakan pembaca bahkan presiden SBY sekalipun. Selain itu, cerita yang disuguhkan dinilai berbeda dan bahkan terkesan melawan arus tren perbukuan kala itu. Tapi justru malah disambut dengan sangat baik oleh banyak kalangan karena kelihaian penulis dalam menggabungkan antara kisah cinta, perjuangan, perjalanan, dan Islam. Berkat karya fenomenalnya itu, sederet penulis-penulis baru ikut meramaikan tren buku yang dikatakan genre Novel Islami itu dengan membuat ide cerita serupa. Tidak hanya itu, nama penulis pun banyak diubah dengan membubuhkan imbuhan “El” seakan menunjukan kesamaan terhadap sang trensetter.
            Setelahnya, banyak lagi tren yang disuguhkan buku-buku karya penulis lokal. Seperti menjamurnya buku-buku biografi, how-to, true story, perjuangan menggapai mimpi, kisah konyol, sampai yang terbaru yakni buku yang ditulis para seleb twitter. Tren seperti apa lagi ini kira-kira?
Twit..Twit..Jadi Buku
            Menerbitkan buku menjadi lebih praktis dan mudah dengan adanya sosial media terutama blog dan twitter. Banyak penulis yang telah membuktikannya. Iseng-iseng menulis pengalaman atau cerita sehari-hari di blog, tidak lama berubah menjadi buku. Atau iseng nge-twit dan banyak followers, tidak lama kemudian menerbitkan buku. Bagaimana bisa begitu?
Selepas hebohnya buku-buku ajaib yang meramaikan toko buku, seperti serial Kambing Jantan-nya Raditya Dika, atau Poconggg karya Arief Muhammad, kini rak toko buku penuh dengan buku-buku karya orang-orang yang eksis di media sosial Twitter. Nggak percaya? Tentu bagi para pengguna Twitter, orang-orang ini tidak asing lagi. Sebut saja @infowatir, @benakribo, @liputan9 dll. Mereka telah menelorkan buku selepas sukses menjadi seleb Twitter. Bagaimana bisa? Sekedar info, salah satu ciri yang membuat akun-akun ini terkenal adalah kekhasan dari setiap twit mereka yang biasanya konyol dan tidak serius, sehingga membuat para stalker betah membacanya. Selain itu, biasanya mereka menggunakan nama samaran/palsu dan enggan mengungkap identitas asli, hal ini sebagai pendukung dari pencitraan identitas twit-twit mereka. 
Buku WATIR karya @infowatir
Buku LIPUTAN 9 karya @liputan9
            Selain para seleb twitter yang identik konyol tadi, tidak ketinggalan akun-akun berbau Islam juga ikut mewarnai. Seperti @ibelieve, @manjaddawajada dll. Mereka pun sama-sama telah menerbitkan buku namun dengan genre yang berbeda. Buku mereka lebih terkesan serius karena bernuansa dakwah dan motivasi.
            Segelintir contoh di atas menjadi bukti akan adanya tren baru yang tengah dialami dunia perbukuan di negeri kita. Tidak salah memang, karena ini lah bentuk dan hasil kemajuan zaman. Hanya saja yang terpenting bagi penulisnya adalah konsistensi dalam berkarya. Dan catatan bagi pembaca adalah pilihlah buku yang sekiranya bermanfaat untuk dibaca. Tidak hanya sekedar hiburan, tapi juga menambah wawasan. Tidak sekedar gaya-gayaan, tapi juga kritis terhadap bacaan.
            Kira-kira, tren apa lagi ya yang akan dialami dunia perbukuan di Indonesia? Just wait and see. Salah, maksudnya just wait and create! Mari tunggu dan ciptakan sesuatu![Lena]

Jumat, 28 Oktober 2011

Jadi Kutu Buku? Siapa Takut!





Kutu buku ( satu sebutan orang yang sangat suka membaca ).Hmm... pasti dalam pikiran kalian orang yang kutu buku itu culun , gak modis , dan berkaca mata.Sehingga kalian enggan untuk menjadi seorang  “KUTU BUKU”.Banyak ya! Di film-film kita lihat orang yang jadi kutu buku itu hanya di manfaatkan saja , misalnya di suruh ngerjain PR dan selalu di injak-injak dan hal itu pasti membuat imajinasi kalian berfikir  “Jadi kutu buku rugi?!”.
                Hey! Itu salah ya justru jadi kutu buku itu penting tau! Selain menambah wawasan baru, juga bisa menambah otak kita encer  kayak air..lihat aja tokoh-tokoh besar kita kayak Habiburrahman El-syehrezy,Chairil anwar dan lain-lain.Kenapa mereka menjadi yokoh-yokh hebat ? itu karena mereka adalah kutu buku ! kepintaran mereka berdua itu dari menjadi “Kutu buku senior”.Sehingga bisa membuat cerita-cerita bermutu dan menjadi karya-karya yang di kenang oleh orang lain. Masa sih gak ngiler jadi , kayak mereke?! So, membaca adalah kebutuhan primer  untuk kita (seperti dalam ekonomi : “kebutuhan primer adalah kebutuhan yang pertama yang harus di penuhi).Jadi membaca harus menjadi hal pertama yang kita penuhi.
                Akhir-akhir ini juga telinga-telinga kami sering mendengar banyak yang bilang “membaca buku menyita waktu ah! Apalagi yang tebel-tebel, males!” Ups! Kok gitu sih ?! males itu alasan konyol ya! Kalo kalian males terus mau jadi apa kalian ?! (huhu...)
                Guru-guru kita juga , bisa pada pintar karena membaca! Jadi kutu buku bertahun0tahun, dan sekarang bisa membagi ilmu pada kalian... Untung gak sih? Udah pintar dapat pahala lagi , karena udah membagi ilmu pada kalian murid-murid mereka.
                Tokoh – tokoh ulama juga kayak imam ghazali , amam syafi’i yang pada bisa membuat syair-syair indah nan bagus karena menjadi kutubuku.Allah juga menyuruh kita membaca dalam surah yang pertama yaitu al-alaq yang berbunyi :
اقرأ باسم ربّك الّذي خلق
Artinya :Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan,
                Tuh kan! Allah juga nyuruh kita membaca .... tapi , jangan asal baca buku ! cari buku yang lebih bermutu , dan lebih mendidik ok!
                Nah, masa kita sebagai agak mau menuruti perintah-Nya malu dong! Masa santri gak menuruti syariat-syariat allah?
                Kata kang Bode(Penyair Tasik): “Pembohong besar penulis yang tidak suka membaca !” Tuh kan ? tanpa membaca kita tidak bisa menjadi apa-apa bukan hanya penulis untuk menjadi dokter,arsitek,perawat juga harus di awali dengan membaca karena tanpa membaca mereka tidak tau bagaimana menyuntik pasien , membangun rumah yang bagus , dan pelayanan suster yang baik.
                Sekarang saya akan membari tips dan trik untuk menjadi kutu buku:
1.jika kalian mengunjungi mal-mal yang besar dan mencakar langit coba kalian belok sebentar ke bookstore kayak gramedia de el el.dan disana kalian pilih satu bacaan yang kalian suka entah berupa komik , humor , majalah dan kawan – kawan.
2.Setelah kalian sering membaca buku – buku tersebut kalian pasti akan mencoba untuk mencari bacaan-bacaan yang lebih menantang dari bacaan sebelumnya.
3.Dari sana kalian akan menyukai kegiatan membaca tersebut walaupun bacaan ringan seperti cerpen , puisi atau yang berat seperti novel , buku-buku fiksi , pelajaran.
4.Terus kalo misalnya kalian di kasih tugas-tugas dari guru yang menumpuk itu harus di kerjakan! Paksalah walaupun kalian ngantuk , males harus di paksakan karena dengan adanya tugas tersebut kita mau tak mau pasti akan membaca.
                Nah,setelah itu mungkin kita terpaksa dengan hal tersebut tapi , karena sering di paksa kita akan terbiasa dan dengan terbiasa kita pasti bisa.Toh, manfaat nya buat kita sendiri?! [Rahmalia]

Selasa, 23 November 2010

Dapur Sastra

Menulis Dari Kebiasaan
Lena Sa'yati, Pengurus Mata Pena Tasikmalaya
http://www.lenasayati.blogspot.com
    Bagi orang yang rajin menulis diary, sebenarnya itu adalah modal mereka untuk  bisa menjadi seorang penulis. Karena menulis itu bukan bakat, melainkan sebuah kebiasaan. Asalkan tekun dan terus menulis, seiring dengan itu kata-katapun akan dengan sendirinya mengalir. Bahkan sekarang sudah banyak penulis yang asal mula keberhasilan karirnya itu berasal dari menulis diary. Tentu isi diarynya itu tak sembarang diary, banyak kisah dan kejadian yang menarik didalamnya hingga Tulisan diarynya itu bisa sampai di bukukan, dan tentu mengandung banyak hikmah.
    Kebiasaan menulis itupun tak hanya bisa lewat diary saja. Banyak penulis terkenal yang awalnya hanya iseng menulis di blog mereka, kemudian dibaca banyak orang hingga akhirnya ada penerbit yang tertarik dan tulisan blognya itupun kemudian dibukukan. Contohnya saja seperti Kambing Jantan karya Raditya Dika yang semula hanya  berupa catatan hariannya di blog. Dan masih banyak lagi penulis-penulis terkenal lain yang berhasil karena berawal dari kebiasaan mereka menulis di diary ataupun di blog.
    Maka bagi yang memiliki diary, tulislah setiap kejadian yang kalian alami dengan cerdas, dalam artian tulisan itu berbobot dan berhikmah. Jangan hanya ditulis asal-asalan saja. Karena sebenarnya itulah modal terbesar kalian untuk bisa menjadi seorang penulis. 
Tapi memang perlu sedikit polesan agar sebuah tulisan bisa menjadi berkualitas dan layak di baca khalayak orang. Yaitu dengan banyaknya membaca. Dengan membaca, biasanya perbendaharaan kata seseorang akan semakin bertambah. Karena hal tersulit yang biasa dialami penulis adalah ketika harus memilih-milih kata yang pas dalam setiap kalimatnya. Maka diusahakan selain terus menulis, diperlukan juga banyak membaca, agar tulisan bisa menjadi terus berkualitas dari waktu ke waktu.
    Pada intinya menjadi seorang penulis itu hanya perlu tekun dan terbiasa terus-menerus menulis. Pantang menyerah saat menemukan kebuntuan dalam menentukan alur. Pantang mogok menulis saat kehabisan kata-kata dalam menentukan sebuah kalimat. Dan yang pasti dalam menulis itu seseorang harus ulet memainkan kata-kata. Hal itu bisa terkuasai apabila seseorang sering banyak membaca, sehingga kata-kata baru akan muncul satu persatu dari setiap buku yang dibaca.
    Maka, mulai sekarang mari buka kembali diary dan blog kita, dan tulislah apa yang telah kita alami, kita lihat, dan yang kita rasakan dengan penuh semangat dan pantang buntu di tengah jalan. Jangan kapok menulis, kerena tulisan yang berkualitas itu berasal dari kebiasaan menulis di barengi dengan kebiasaan membaca buku-buku berkualitas. Selamat mencoba.[Lens]